Ajaran NII: Menebus Dosa Dengan Uang

Author - April 27, 2011

Ajaran NII: Menebus Dosa Dengan Uangi-berita, Seorang pemuda bernama Andi (nama samaran) yang juga merupakan alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menuturkan kisahnya saat temannya bernama Rudi mengajaknya untuk mengenal ajaran sebuah kelompok, Negara Islam Indonesia (NII). Ketika itu, ia diajak ke suatu tempat dan menjalani proses pembaiatan. Kelompok Negara Islam Indonesia (NII) memang memberlakukan sumpah setia atau baiat kepada para calon anggotanya. Andi sempat dibaiat sekitar tahun 2006 tepatnya saat ia memasuki tahun pertama kuliahnya.

Meski sempat dibaiat, namun Andi tidak terjerumus hingga menjadi anggota NII karena menilai adanya kejanggalan pada ajaran-ajaran NII. Apa saja ajaran yang dinilainya janggal? Menurut Andi, di setiap kesempatan, anggota NII yang berupaya merekrutnya menjanjikan keuntungan-keuntungan materi kepadanya. Ia dijanjikan akan mendapatkan penghasilan tanpa harus bekerja dan segala kebutuhan hidupnya akan terjamin.

Lebih anehnya lagi, kata Andi, NII mengajarkan anggotanya untuk tidak perlu melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Menurut ajaran NII, shalat hanya dilakukan dua waktu. “Shalat besar dan shalat kecil,” kata Andi. Akan tetapi, ia mengaku lupa mengenai apa yang dimaksud dengan shalat besar dan shalat kecil. Seingatnya, yang dimaksud shalat kecil adalah mengajak orang lain untuk bergabung. “Mengajak orang masuk NII itu ibadah,” ucapnya.

Lalu, jika anggota NII melakukan dosa, kata Andi, cukup dibayar dengan sejumlah uang. Setelah membayar, dosa-dosanya diyakini akan hilang. “Itu tidak masuk akal,” ucap Andi. Lainnya, setiap anggota NII, menurut Andi, diwajibkan membayar iuran kepada negara. Untuk mencari uang, dihalalkan cara apa pun, termasuk mencuri. “Terus, uangnya dimasukin ke kas negara untuk membiayai negara,” tuturnya.

Menurut Andi, tiap anggota dijanjikan akan mendapat bagian dari uang yang disetorkannya. Andi lupa berapa persen bagian yang akan didapatkan seorang anggota dari setoran yang dimasukkan. Setoran kepada negara tersebut, lanjut Andi, mulai dibayarkan di awal menjadi anggota. Setelah dibaiat, Andi mengaku dimintai iuran berkisar Rp 400.000-Rp 500.000. Iuran-iuran tersebut disetorkan kepada seseorang yang berwenang, tidak melalui transfer rekening.

Mengetahui adanya sejumlah iuran yang harus dibayarkan, Andi mengaku tidak memiliki uang untuk itu. Namun, Rudi, orang yang merekrutnya, kemudian membujuk dengan menawarkan diri untuk membayarkan sementara kewajiban Andi. “Mereka pintar, mereka bilang, ‘Gw bayarin dulu, asal lo yakin’,” kata Andi menirukan ucapan Rudi saat itu.

Berusaha lepas dari bujukan Rudi, Andi berkilah bahwa ia merasa tidak yakin dengan ajaran NII. Menanggapinya, lagi-lagi Rudi mengerahkan kemampuan komunikasinya untuk meyakinkan Andi. “Kalau masalah enggak yakin, kamu lihat saja dulu, masalah yakin enggak yakin belakangan,” kata Andi menirukan Rudi.

Pasca baiat, Andi pulang ke rumah. Ia menuturkan, karena merasa ragu dengan ajaran NII, Andi kemudian membaca-baca Al Quran lengkap dengan terjemahan yang ada di rumahnya. Dari situlah Andi sadar bahwa ayat-ayat Al Quran yang disampaikan anggota NII kepadanya telah ditafsirkan secara berbeda. “Saya baca ayatnya, ternyata penafsirannya beda, pintar banget dia (orang NII), pakai ayat Al Quran,” ungkapnya.

Selanjutnya, Andi semakin yakin untuk meninggalkan NII ketika mendengar nasihat temannya. “Kata teman saya, cara orang menyembah Tuhan berbeda-beda. Enggak perlu sampai pindah negara segala,” tuturnya. Apalagi, setelah Andi mengikuti seminar tentang NII yang kebetulan digelar di kampus tidak lama setelah ia dibaiat. Andi juga menceritakan, meskipun tidak merasa yakin dengan NII, ia tidak dilepaskan begitu saja. Pasca-dibaiat, anggota NII terus berupaya menghubunginya. Anggota NII juga sempat mendatanginya ke kampus.

“Dari awal dia ngancem sih, kalau keluar bakal kena musibah besar. Namun, buktinya sampai sekarang saya enggak kenapa-kenapa,” ungkapnya. Andi pun memilih untuk mengganti nomor ponselnya demi menghindari “gangguan” para anggota NII. “Dua minggu kemudian, sudah enggak dihubungi lagi,” katanya.

Meskipun demikian, setelah dibaiat, Andi mengaku sempat diperkenalkan dengan anggota NII lainnya yang sekampus dengannya. “Ternyata di UI banyak, di bawah tanah, enggak keliatan, ada anak Komunikasi 2005 juga, anak FISIP, dan anak FIB,” ungkapnya.

Comments Closed

Comments are closed.