Banjir Australia, Brisbane Jadi Kota Hantu

Author - January 13, 2011

Banjir Australia, Brisbane Jadi Kota Hantui-berita, Banjir besar yang melanda di sebagian wilayah Australia itu masih belum menunjukkan tanda-tanda surut. Banjit di Australia menjadi salah satu banjir yang terparah melanda Australia beberapa dekade ini. Bahkan, kota terbesar ketiga di negeri itu, Brisbane, kemarin (12/1/2011) yang juga ibu kota negara bagian Queensland itu telah diterjang banjir parah dan telah berubah menjadi kota hantu yang tidak berpenghuni. Akibat banjir yang menggenangi Brisbane, ribuan penghuninya memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan meninggalkan rumah mereka. Ketinggian air sudah mencapai 1,5 meter dan bebearpa bagian sudut kota, genangan air yang bercampur dengan lumpur itu sudah mengenai bagian atas lampu lalu lintas.

Sirene terus berbunyi di pusat kota itu ketika air menerobos masuk dari kawasan di timur laut hingga pusat kota kemarin. Akibat banjir tersebut, lebih dari 3 ribu rumah terancam. Aktivitas seperti perkantoran, diberhentikan sementara banjir tersebut masih menggenangi. Brisbane menjadi kota terakhir yang dilanda banjir setelah sebelumnya sejak November tahun lalu, hujan deras terus mengguyur sebagian kota di Australia dan berubah menjadi banjir. Banjir yang melanda Queensland menjadi catatan sejarah tentang banjir terparah dan terburuk sejak 1974 atau sekitar 37 tahun lalu.

Puluhan ribu rumah juga tidak mendapat suplai listrik. Lebih dari 50 kawasan di pinggir kota dan 2.100 jalan terendam setelah Brisbane River meluap. Tanggul sungai itu jebol sejak Selasa lalu (11/1) karena tidak mampu menahan luapan banjir . Elevasi atau ketinggian air di sungai tersebut diperkirakan terus bertambah setelah kemarin mencapai lima meter.

Kendati begitu, Badan Meteorologi Australia tadi malam meramalkan curah hujan mulai berkurang. Ketinggian air Brisbane River diperkirakan tak akan melampaui 5,5 meter. Jika ramalan tersebut terbukti, itu berarti ketinggian banjir tidak sampai separah seperti pada 1974. Saat itu banjir merendam seantero kota. Premier (perdana menteri negara bagian atau gubernur) Queensland Anna Bligh menyambut baik kabar tersebut meski belum sepenuhnya lega. “Banjir kali ini termasuk musibah besar. Tetapi, kota ini jauh lebih besar dan berpenduduk lebih banyak. Masih banyak wilayah yang tidak terkena banjir seperti pada 1974,” tuturnya.

Bligh menyebutkan, sedikitnya 22 orang tewas dan 43 hilang di seantero wilayah Queensland sejak banjir pada November tahun lalu. Genangan banjir saat ini jauh lebih luas jika dibandingkan dengan wilayah Prancis dan Jerman.Kerugian akibat banjir ditaksir AUD 5 miliar (sekitar Rp 44,5 triliun). Pasalnya, banjir itu telah menghentikan industri batu bara dan merusak pertanian di seantero negara bagian tersebut.

Comments Closed

Comments are closed.