Dibalik Pidato Megawati Yang Memukaui-berita, Dalam memperingati hari ulang tahun PDI Perjuangan ke-38, Megawati selaku pimpinan pusat terlihat hadir di Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, Jalan Raya Lenteng Agung 99, Jakarta Selatan. Kedatangan Megawati disambut hangat oleh para ratusan kader PDIP dan puluhan tokoh politik nasional yang sudah menunggu kedatangannya. Dalam peringatan itu, Megawati memberikan sepetik pidato politik yang rupanya sangat memukau para pendukungnya. Pidato Megawati sendiri disiarkan langsung oleh dua stasiun televisi. Mega menyampaikan orasinya di panggung depan kantor.

Sebuah telepromter, pun dipersiapkan agar Mega dapat berpidato secara sempurna. Alat ini berbentuk tongkat setinggi kurang lebih 1,5 meter. Terdapat, kaca tipis tempus pandang di bagian atasnya yang biasanya berdiri di samping kiri dan kanan mimbar. Dari kaca tipis ini, muncul teks pidato sebagai pantulan dari monitor yang ada di bagian bawah. Pembaca pidato, layaknya akan seperti pembaca berita di televisi sehingga tak perlu lagi memegang naskah pidato. Presiden SBY, juga kerap kali memakai alat canggih ini.

Pidato yang diberikan Mega, diakui para kader dan tokoh politik lainnya sangat memukau dan takzim mendengarnya. Hingga kini, masih dipertanyakan siapakah penulis pidato Megawati Soekarno Putri itu. Namun sempat beredar nama Prananda Prabowo yang juga anak kedua dari megawati sering disebut-sebut sebagai penulis pidato tersebut. Wakil Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyebut Prananda ikut mengonsep pidato bersama tim. “Terutama dalam memberi ruh kutipan kata-kata Bung Karno,” kata Hasto di sela-sela Kongres di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Selasa 6 April 2010.

Prananda pula yang diduga memberikan sejumlah kutipan bernas Bung Karno dalam pidato Mega. Salah satu kutipan misalnya “Mundur hancur, mandek (berhenti) amblek (runtuh), bongkar maju terus. Tak boleh balik lagi.” Megawati mengulang lagi pernyataan Soekarno itu dalam pidato di hadapan peserta Kongres.