Film Atas Nama

Author - August 19, 2010

Film Atas Nama. Implementasi atas kondisi kaum perempuan di tanah air yang dirasa masih jauh dari harapan seperti masih maraknya kekerasan, diskriminasi, intolerensi, penyeragaman dan kriminalisasi atas nama agama, moralitas serta keinginan kelompok mayoritas, dikaryakan dalam sebuah film dokumenter berjudul ATAS NAMA.
Film Atas Nama
Bertempat di Pusat Perfilman Haji Umar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, film yang berdurasi lebih kurang enam puluh menit itu mengangkat realitas laporan Komnas Perempuan tentang adanya 154 kebijakan daerah yang diskriminatif, baik terhadap kaum perempuan maupun kelompok minoritas.

Menurut Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah, bila kondisi tersebut berlanjut maka rakyat Indonesia tidak dapat menikmati hak-hak sebagai warga negara.

“Bukan cuma perempuan tapi semua rakyat tak bisa merasakan hak-hak konstitusionalnya, namun juga bisa mengarah pada disintregasi bangsa,” ujarnya sebelum pemutaran, Rabu (18/8).

Film dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-65 ini dibuka dengan cerita dari seorang ibu rumah tangga yang tengah hamil dan dituduh sebagai pekerja seks komersial di bilangan Tangerang, Banten, oleh satuan polisi pamong praja setempat.

Sejak penangkapan dilakukan, perempuan ini tidak memperoleh perlakuan baik, bahkan sang suami mesti merogoh kocek lebih kurang Rp300 ribu untuk mengeluarkan ibu satu anak tersebut. Namun karena mereka dari kalangan tidak mampu maka uang tebusan tak dapat dipenuhi, hingga akhirnya perempuan ini meninggal dunia lantaran mengalami pendarahan hebat.

Selain dihadiri pemerhati dan aktivitas perempuan, tampak pula Kanjeng Ratu Hemas.

Comments Closed

Comments are closed.