Laporkan Contekan Massal, Ibu Ini Malah Diusir Warga

Author - June 15, 2011

Laporkan Contekan Massal, Ibu Ini Malah Diusir Wargai-berita, Nasib malang harus diterima oleh Siami, salah satu warga di Jl. Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya. Pasalnya, setelah Siami melaporkan kasus penyontekan massal yang terjadi di tempat anaknya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD), bukan mendapatkan pujian atas kejujurannya. Justru, Siami mendapatkan sambutan dari warga setempat berupa pengusiran seluruh anggota keluarga Siami dari wilayahnya. Awalnya, sang anak yang bernama Al melaporkan tindakan gurunya yang memaksanya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional berlangsung pada 10-12 Mei lalu.

Setelah itu, Miami ingin mengatakan kejujurannya kepada pihak yang berwajib dengan melaporkan guru SDN Gadel 2 itu. Namun, rupanya tindakan Miami mendapatkan perlawanan dari warga setempat. Rumahnya pun diserbu oleh ratusan warga yang menuntut agar Siami segera meninggalkan rumahnya. Teriakan “Usir, usir…tak punya hati nurani,” terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6/2011) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki.

Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, menghujat tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang kemarin. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya. Padahal, agenda pertemuan tersebut sebenarnya mediasi antara warga dan wali murid dengan Siami. Namun, rembukan yang difasilitasi Muspika (Musyarah Pimpinan Kecamatan Tandes) itu malah berbuah pengusiran. Mediasi itu sendiri digelar untuk menuruti tuntutan warga agar keluarga Siami minta maaf di hadapan warga dan wali murid. Siami dituding sok pahlawan setelah melaporkan wali kelas anaknya, yang diduga merancang kerjasama contek-mencontek dengan menggunakan anaknya sebagai sumber contekan.

Sebelumnya, Siami mengatakan, dirinya baru mengetahui kasus itu pada 16 Mei lalu atau empat hari setelah UN selesai. Itu pun karena diberi tahu wali murid lainnya, yang mendapat informasi dari anak-anak mereka bahwa Al, anaknya, diplot memberikan contekan. Al sendiri sebelumnya tidak pernah menceritakan ‘taktik kotor’ itu. Namun, akhirnya sambil menangis, Al, mengaku. Ia bercerita sejak tiga bulan sebelum UN sudah dipaksa gurunya agar mau memberi contekan kepada seluruh siswa kelas 6. Setelah Al akhirnya mau, oknum guru itu diduga menggelar simulasi tentang bagaimana caranya memberikan contekan.

Siami kemudian menemui kepala sekolah. Dalam pertemuan itu, kepala sekolah hanya menyampaikan permohonan maaf. Ini tidak memuaskan Siami. Dia penasaran, apakah skenario contek-mencontek itu memang didesain pihak sekolah, atau hanya dilakukan secara pribadi oleh guru kelas VI. Setelah itu, dia mengadu pada Komite Sekolah, namun tidak mendapat respons memuaskan, sehingga akhirnya dia melaporkan masalah ini ke Dinas Pendidikan serta berbicara kepada media, sehingga kasus itu menjadi perhatian publik.

Comments Closed

Comments are closed.