Singapura Jadi Tempat Persembunyian Koruptor

Author - June 11, 2011

Singapura Jadi Tempat Persembunyian Koruptori-berita, Berbicara mengenai Nazaruddin yang sedang berada di Singapura, dari catatan yang diambil selama 10 tahun terakhir, ternyata Singapura menjadi tempat favorit bagi para buronan dan koruptor asal Indonesia. Hasil tersebut diungkapkan oleh Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho dalam acara diskusi Polemik Trijaya bertajuk ‘Koruptor Ngeloyor, Negara Tekor’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 11 Juni 2011.

Menurutnya, ada sekitar 45 orang koruptor yang melarikan diri dengan cara pergi ke luar negeri dan 20 orang diantaranya memilih Singapura untuk menjadi tempat persembunyiannya. Emerson juga menambahkan bahwa dari 45 orang koruptor tersebut, sebagian sudah divonis dan sebagian lagi belum. Kini yang sedang hangat dibicarakan mengenai kaburnya koruptor ke luar negeri yakni Nazaruddin dan Nunun.

Nazaruddin berangkat ke Singapura dengan alasan untuk berobat yang kabarnya ia telah menderita penyakit jantung. Ia pergi sehari sebelum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengirimkan surat permohonan cekal atas dirinya dan sesaat sebelum Dewan Kehormatan Demokrat mengumumkan pencopotan dirinya dari jabatannya sebagai Bendahara Umum di Partai Demokrat. Namun, hingga kini Nazaruddin masih belum juga menampakkan dirinya di tanah air. Bahkan, seharusnya Nazaruddin juga datang untuk memenuhi panggilan KPK untuk dimintai keterangan sebagai saksi terkait dua kasus yang berbeda yakni kasus pengadaan barang di Kementerian Pendidikan Nasional dan kasus pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Tidak hadir saat panggilan pertama, KPK pun akan memanggil kembali pada 13 Juni mendatang. Sementara Nunun Nurbaeti yang diduga terlibat dalam kasus suap cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia yang dimenangkan oleh Miranda Swaray Goeltom pada tahun 2004, saat ini berlum diketahui secara pasti keberadaannya. Sempat beredar kabar bahwa ia sering terlihat di Singapura dan Thailand, jejak Nunun juga tercium di Kamboja. Ia pun kini menjadi buruan interpol.

Mengenai tindakan para korupto yang kabur ke luar negeri, ICW menilai bahwa tidak ada upaya dari lembaga hukum yang berwenang untuk menangkap para koruptor tersebut. Selain itu, ICW juga menilai bahwa institusi terkait lamban melakukan pencekalan, sehingga para koruptor tersebut memiliki waktu untuk kabur terlebih dahulu. “Penegak hukum bagai pelari sprint, sedangkan koruptor bagai pelari marathon. Jadi sering tidak terkejar,” ujarnya.

Comments Closed

Comments are closed.