Ahmadiyah: Kekerasan Meningkat Sejak 2005

Author - February 17, 2011

Ahmadiyah: Kekerasan Meningkat Sejak 2005i-berita.com, Tragedi Cikeusik, Minggu 6 Februari 2011 menjadi momentum kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyah. Peristiwa tersebut telah menelan korban tiga warga Ahmadiyah tewas secara mengenaskan.

Amir Jamaah Ahmadiyah, Abdul Basit mengatakan, kekerasan terhadap warga Ahmadiyah baru terjadi pada tahun 2005. “Baru akhir-akhir ini, tahun 2005, kekerasan meningkat dan kita menjadi korban,” kata dia dalam rapat dengar pendapat di Gedung Dewan, Senayan, Jakarta, Rabu malam, 16 Februari 2011.

Sebelumnya, cerita dia, memang ada perdebatan keras namun tidak mengarah ke tindakan kekerasan. “Tidak ada kekerasan, apalagi bakar masjid,” kata dia.

Bahkan, Abdul Basit menunjuk tahun 1980-an sebagai tahun yang aman bagi warga Ahmadiyah. “Tahun 1980-an, Soeharto luar biasa menjaga. Waktu itu tidak ada kekerasan seperti sekarang,” tambah dia.

Basit meralat ucapannya yang mengatakan bahwa kekerasan terjadi sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa soal Ahmadiyah tahu 1980.

Salah satunya, fatwa tersebut digunakan pada tanggal 22 Juli tahun 2001. “Penyerangan diprovokasi tuan guru haji yang menyatakan ahmadiyah kafir berdasarkan fatwa MUI tahun 1980.”

“Ekses itu ada, tapi kalau keberatan fatwa MUI itu sumber daripada konflik ya baiklah saya ralat, saya tarik. Saya mohon maaf,” kata Basit, yang menanggapi pertanyaan anggota dewan.

Terkait tragedi Cikeusik, anggota dewan mempertanyakan apakah Suparman, digaji Rp10 juta mengembangkan ajaran di daerah itu. Jawaban Basit, “Pak Suparman memang orang sana. Tidak ada Rp10 juta itu. Memang ada dari organisasi sekedar cukup untuk hidup, itu dari anggota sendiri.” Soal 17 anggota Ahmadiyah yang datang ke Cikeusik, Basit menjelaskan, kedatangan mereka adalah untuk silaturahmi.

Comments Closed

Comments are closed.