Asnun: Tolong Kopi Saya Ditambah 10 Ribu Kilo

Author - December 9, 2010

Asnun: Tolong Kopi Saya Ditambah 10 Ribu Kiloi-berita.com, Bagaimana tidak akan tergiur dengan uang sebesar US$40 ribu walaupun sebenarnya uang itu panas, eh, ditangkap juga. Itulah gambaran pejabat kehakiman di Republik Indonesia.

Sebelum diberi uang sebesar US$40 ribu dari terdakwa Gayus Tambunan, Mantan hakim Gayus di Pengadilan Negeri Tangerang, Asnun Muhtadi mengaku sempat meminta maaf kepada Gayus.
“Belum saya sampaikan, Asnun minta maaf, Mas saya mohon maaf, saya sudah konsultasi ke istri dan mertua saya mau umroh tidak layak untuk menerima uang dari saudara,” Kata terdakwa Gayus dalam pemeriksaan di persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (8/12/2010).
Di persidangan, Gayus mengaku saat menjadi terdakwa di PN Tangerang, dirinya sering dihubungi melalui telepon dan pesan singkat.
“Saya pernah ditelepon dan di SMS duluan,” kata Gayus.
Hakim bertanya, “Apa yg dikatakan?”
“Malam pak apa bapak bisa bantu anak saya untuk jadi pegawai di Ditjen Pajak, dari pak ketua majelis hakim, saya jawab kalau ada info akan saya beritahu,” tutur Gayus di depan persidangan.
Kemudian pada 9 Maret 2010, Gayus mengingat Asnun menghubunginya. Selepas Maghrib, ia diminta untuk bertemu di kantor Asnun.
Dalam percakapannya, Asnun mengatakan agar Gayus tolong diperhatikan hakim-hakim. Kemudian menurut penafsiran Gayus, istilah diperhatikan sama dengan dengan meminta uang.
“Penafsiran saya Asnun minta uang, lalu saya tanya berapa kira-kira? Pak Asnun menjawab, yang mas kira-kira saja pantasnya berapa? Kalau US$20 ribu gimana? US$10 ribu buat bapak, US$10 ribu buat hakim anggota, tapi dia diam saja,” ucap Gayus menirukan percakapan dirinya dengan Asnun saat itu.
Lalu hakim bertanya lagi, “Dari diam itu, saudara tafsirkan apa?,” tanya Albertina Ho, ketua majelis hakim.
“Saya tafsirkan dia terima,” jawab Gayus.
Gayus berkisah lagi, pada tanggal 12 Maret 2010, hakim Asnun mengirim pesan pendek lagi, meminta agar anaknya minta dibelikan mobil Honda Jazz “Tolong kopi saya ditambah 10.000 kilo,” kata Asnun.
“Jawaban saya iya pak,” kata Gayus.
“Baik ya saudara?” kata Hakim,
Gayus menjawab bahwa ia tidak bisa menolak. Lalu SMS terakhir dari Asnun, lanjut Gayus, sekitar pukul 6.00 WIB, Asnun mengatakan agar kopi atau istilah uang segera diberikan sebelum jam 10.00 pagi. “Nanti semua permintaan bapak saya penuhi semua. Saya jawab ok pak,” tambah dia.
Namun sebelum kopi (uang) diberikan ke rumah Asnun, hakim itu kemudian meralat langsung meminta maaf kepada Gayus, karena meminta kepada terdakwa merupakan pelanggaran.
Gayus mengaku tidak membawa uang saat datang ke rumah Asnun. “Lalu di kantong saudara bawa apa?,” tanya Albertina. “Ada HP,” jawab Gayus.
Mendengar adanya kesaksian yang berubah, jaksa penuntut umum lalu memutar rekaman kesaksian Gayus saat menjadi saksi di sidang terdakwa Asnun di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Dalam rekaman itu, Gayus mengaku membawa uang US$40 ribu ketika datang ke rumah Asnun. “Dikantongin,” kata Gayus dalam rekaman.
Terkait kesaksian Gayus itu, Adnan Buyung Nasution, pengacara Gayus, meminta penegasan kepada kliennya, “Keterangan mana yang benar?” Gayus menjawab,” keterangan yang di sini (yang ia sampaikan di depan hakim Albertina).

Comments Closed

Comments are closed.