Dibobol Rp17 miliar, Bagi Citibank Kecil

Author - April 11, 2011

Dibobol Rp17 miliar, Bagi Citibank Kecil i-berita.com, Kasus pembobolan dana nasabah sebesar Rp 17 miliar membuat reputasi Citibank menjadi tercoreng. Akankah para nasabah Citibank kabur?

“Belum tentu!” kata Ekonom Senior Universitas Ma Chung Malang, Moch Doddy Ariefianto. Menurutnya, ulah mantan Senior Relationship Manager Citibank Malinda Dee tidak meruntuhkan kepercayaan nasabah terhadap sistem perbankan Citibank secara umum. Sebab, Malinda merupakan oknum.

Yang bahaya menurut Doddy adalah jika terjadi fraud (penipuan) di level bank (bukan oknum) sehingga memicu kerugian triliunan rupiah. “Ditilap Rp17 miliar bagi Citibank merupakan angka yang kecil. Bahkan, 10 kali dari angka itu pun, Citibank tidak akan goyah,” katanya, di Jakarta, Minggu (10/4).

Tapi, Doddy mengakui, aksi Malinda memang mencoreng reputasi Citibank sebagai bank kelas dunia. Kasus Melinda, menunjukkan buruknya tata kelola. Citibank bisa dikadalin oleh seorang Melinda sehingga kualitas yang lainnya pun dipertanyakan.

“Kasus Melinda tak seharusnya terjadi karena satu transaksi melibatkan banyak pihak,” ujarnya. Masalah tersebut, lanjut Doddy, bisa diatasi dengan pergantian manajemen.

Doddy meragukan, kasus Melinda bisa memicu hijrahnya nasabah terutama prime customer ke bank lain atau luar negeri. “Memang, nila setitik rusak susu sebelanga. Tapi, kasus Melinda, tidak terjadi secara sistematis pada banknya, melainkan oknum per oknum,” timpalnya.

Melinda Dee sudah ditangkap sedangkan supervisor dan manager yang tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya sedang diusut. Karena itu, di masa depan akan ada pencopotan lagi. “Citibank bukan bank yang baru lahir. Reputasi Citibank sudah dibangun puluhan tahun. Di Indonesia, bank ini sudah ada belasan tahun sebelum reformasi,” ungkap Doddy.

Kalaupun terjadi peralihan nasabah (prime cuctomer), menurut Doddy, akan kecil. Bisa jadi, 2-3 dari 10 nasabah hengkang dari Citibank. Itupun, ditegaskannya, ke bank asing lain di dalam negeri seperti ANZ, Standard Chartered Bank, Commonwealth Bank dan HSBC.

“Tapi, kondisi ini tidak akan terjadi secara masif,” tandasnya. Sebab, semua bank besar, pernah dibobol. Berdasarkan pengalaman, kondisi itu tidak memicu rush (penarikan dana besar-besaran oleh nasabah dalam waktu serentak).

Secara umum, prime customer dengan dana di atas Rp500 juta masih betah di Citibank. “Rush akan terjadi, jika terjadi kejahatan yang bersifat sistematis sehingga bank terancam tutup,” jelas Doddy.

Dihubungi terpisah, pengamat perbankan David Sumual mengatakan hal senada. Menurutnya, dalam kasus Melinda, nasabah Citibank tidak dirugikan. Sebab, dana yang ditilap Melinda Dee senilai Rp17 miliar diganti oleh bank.

Hanya saja, Citibank bermasalah dari sisi risiko reputasi di masa depan. Menurutnya, kasus Malinda tidak akan memicu peralihan nasabah baik dari Citibank ke bank lain maupun ke luar negeri seperti Singapura, Hong Kong atau New York.

“Jika terjadi peralihan prime customer ke luar negeri seperti Singapura akan merepotkan,” timpalnya. Sebab menurut David, penempatan dana oleh prime customer bertujuan untuk transaksi di Indonesia terutama untuk perusahaan-perusahaan multinasional. “Jadi, kasus Malinda tidak akan drastis membuat nasabah beralih ke luar negeri,” tukasnya.

Lebih jauh dia mengatakan, peralihan dana ke luar negeri juga terhambat faktor hukum (legal). Dia mencontohkan, transaksi di perbankan Singapura susah digunakan untuk pembiayaan di Indonesia. “Nasabah tetap harus menggunakan entitas yang ada di Indonesia ,” tutur David.

Karena itu, kasus Malinda, tidak otomatis memicu peralihan nasabah dari Citibank ke luar negeri. Sebab, bisnis dan kegiatan transaksinya dilakukan di Indonesia. “Malinda Dee merupakan oknum. Tidak berarti semua sistem perbankan seperti itu. Sebagus-bagusnya sistem, tetap memiliki peluang kriminal,” ucapnya.

Menurutnya, kasus Citibank terlokalisir. Nasabah akan khawatir jika terjadirush. Based on historical data, belum pernah kasus seperti Malinda memicu rush karena bisa diatasi. Apalagi, Citibank masih kuat. “Jika dilihat dari penguatan rupiah dan melimpahnya cadangan devisa, tidak ada tanda-tanda peralihan nasabah,” kata David.

Yang terpenting menurutnya, baik nasabah maupun bank mengambil pelajaran sehingga kasus serupa tidak terulang lagi di masa depan. Bukan hanya skill karyawan bank yang diutamakan, tapi juga kredibilitas dan integritas yang bersangkutan. “Karena itu, proses rekrutmen menjadi penting,” tandasnya.

Comments Closed

Comments are closed.