Karangetang Status Awas, Evakuasi Warga Lewat Laut

Author - March 20, 2011

Karangetang Status Awas, Evakuasi Warga Lewat Lauti-berita.com, Status Gunung Karangetang, sejak Jumat 18 Maret 2011 16.45 Waktu Indonesia Tengah sudah menjadi Awas. Demikian informasi yang didapat dari Pusat Vulkanologi dan dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG).

Gunung di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara ini menjadi satu-satunya gunung di Indonesia yang berstatus Awas — setelah aktivitas Merapi dan Bromo mereda.

Kepala PVMB, Surono mengungkapkan, sampai Sabtu siang pukul 12.00 WITA, telah terjadi dua kali lelehan lava ke arah Barat. “Jauhnya 2.000 meter ke arah kali. Ujungnya terjadi awan panas, jauhnya 500 meter dari lida lava, total awan panas 2,5 kilometer,” kata Surono, Sabtu 19 Maret 2011 malam.

Sejak Jumat lalu Karangetang mengeluarkan awan panas bercampur debu kehitaman. Saat itu, sedikitnya 44 penduduk Desa Kinali Kecamatan Siau Barat-Utara sempat terjebak.

Dijelaskan Surono, warga tersebut tinggal di wilayah yang terletak di antara dua sungai dan dua lembah. “Kedua sungai itu ada potensi awan panas lewat, pengungsian hanya bisa lewat laut,” jelas dia.

Namun, untungnya tak ada korban jiwa. “Sudah diungsikan semua,” tambah Surono.

Gunungapi Karangetang yang dikenal juga sebagai G. Api Siau merupakan sebuah pulau gunung api dan berada di bagian utara Pulau Siau termasuk ke dalam kabupaten Sitaro yang berjarak sekitar 146 km dari kota Manado. Secara geografis Gunung Karangetang terletak pada posisi 02047’ Lintang Utara dan 125029’ Bujur Timur, dengan tinggi puncak sekitar 1.827 m di atas permukaan laut. Gunung api tersebut dipantau secara menerus dari Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Salili.

Terkait dengan peningkatan status Karangetang, PVMBG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mendaki dan mendekati kawah. Selain itu, warga diminta mewaspadai luncuran awan panas dan guguran lava pijar yang dapat terjadi setiap saat pada lembah sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang, terutama ke Kali Nanitu, Kali Pangi dan Kali Beha Barat.

Sebelumnya, dalam kejadian erupsi terakhir pada 6 Agustus 2010 telah menyebabkan 4 korban jiwa yang diakibatkan oleh awan panas guguran dari kubah lava yang terjadi secara tiba – tiba pada malam hari.

Comments Closed

Comments are closed.