Mesum di Mobil Mitsubishi Pajero, 2 Tewas

Author - March 24, 2011

Mesum di Mobil Mitsubishi Pajero, 2 Tewasi-berita.com, Seorang penyanyi hiburan malam di sebuah café berinitial FS (16), tubuhnya sama sekali sulit untuk digerakkan. Bahu dan pangkal paha kanannya patah. Hanya tangan kirinya yang masih bisa digerakkan untuk memegang gelas dan sekaligus sebagai tempat menancapkan jarum infus.

Derita itu harus ditanggung FS (16) sejak mobil Mitsubishi Pajero yang ditumpangi bersama empat gadis seusianya dan dua laki-laki dewasa mengalami kecelakaan. Mobil itu terjun dari jalan layang Tol Tanjung Priok-Grogol, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (22/3/2011) dini hari.
Kecelakaan maut itu menyebabkan dua laki-laki dewasa di mobil itu, Hamed Bahrun (51) yang mengendarai mobil dan kawannya, Abu Bakar (39), tewas.
Sementara lima gadis di mobil itu mengalami luka berat dan ringan. FS dan SW (17) adalah dua gadis yang mengalami cedera berat. Hingga Rabu (23/3/2011), keduanya dirawat di Rumah Sakit Atma Jaya, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.
Sebelum kecelakaan itu terjadi, FS mengaku mereka baru keluar dari tempat hiburan di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Gadis berparas molek ini pun baru selesai menunaikan tugasnya sebagai penyanyi di tempat itu. ”Malam itu kami rencananya ingin jalan-jalan,” katanya.
Kendati berdasarkan pemeriksaan sementara kepolisian, saat para penumpang mobil itu dievakuasi, ditemukan Abu Bakar duduk bersama salah satu gadis di mobil itu hanya dengan mengenakan busana sebagian. Diduga kuat mereka melakukan hubungan intim di mobil itu. Selain itu, di dalam mobil juga tercium bau alkohol yang menyengat.
Nasi sudah menjadi bubur. Rencana menghabiskan malam bersama teman-teman di jalan harus diakhiri FS di rumah sakit. Bahkan, FS pun mengaku tidak tahu sampai kapan derita patah tulangnya akan berakhir.
”Mungkin ini (patah tulang) akan dibiarkan. Saya tidak punya uang,” katanya dengan suara yang sangat lemah.
”Tapi, ibu sedang cari uang untuk bayar rumah sakit,” ujarnya lagi.
Perlahan dia menelan setiap sendok bubur yang diberikan. Hanya ketika minum dia mengalami kesulitan karena tak dapat menegakkan bahunya yang patah. Air yang diminumnya dari gelas tumpah sebagian ke lehernya.
Temannya, SW, yang juga mengalami patah tulang di pangkal paha kirinya, juga sempat beberapa kali berteriak memanggil ibunya. ”Ma… Ma… aku lapar. Mama mana, sih,” katanya. Seorang suster pun langsung menghampiri dan menyuapinya makan.
FS mengaku, ibunya hanya bekerja sebagai pemintal benang di suatu pabrik di Jakarta Barat. Karena upahnya minim, anak ketiga dari empat bersaudara ini harus ikut mencari nafkah sebagai penyanyi di tempat hiburan sejak usianya 12 tahun.
Agar memperoleh penghasilan lebih besar, gadis berkulit putih bersih ini memutuskan tak melanjutkan pendidikan ke SMA dan memilih sebagai penyanyi di tempat hiburan.
Kini, FS harus meninggalkan pekerjaannya sebagai penyanyi hingga beberapa waktu ke depan. Sebab, patah tulang yang dideritanya belum juga dioperasi hingga saat ini.
Keluarganya yang tinggal di kawasan Tambora, Jakarta Barat, juga tak dapat lagi mengandalkannya sebagai sumber nafkah untuk beberapa saat.
Buah kemiskinan memang begitu pahit. Bahkan, gadis belia seperti FS yang seharusnya menimba ilmu di sekolah harus menelan pil pahit kehidupan.
Kini FS hanya bisa meredam pahitnya kehidupan dengan melelehkan air mata. Begitu juga untuk meredam sakit patah tulang yang dideritanya.

Comments Closed

Comments are closed.