Pasukan Gaddafi Dikerahkan Dekat Perbatasan Tunisia

Author - March 2, 2011

Pasukan Gaddafi Dikerahkan Dekat Perbatasan Tunisiai-berita.com, Ketegangan di Libya semakin memanas. Pemimpin Libya Muamar Gaddafi mengerahkan Pasukan yang setia pada kepemimpinannya ke dekat perbatsan Tunisia, Selasa, 1 Maret 2011. Amerika Serikat mengatakan pihaknya menggerakkan kapal-kapal perang dan angkatan udara semakin dekat ke Libya.

Penduduk khawatir pasukan pro Gaddafi sedang bersiap untuk menyerang guna menguasai kembali Nalut, sekitar 60km dari perbatasan Tunisia di Libya barat dari para pemerotes yang berusaha mengakhiri kekuasaan Gaddafi.

AS dan negara-negara lain membicarakan opsi-opsi militer Senin untuk menangani Libya sementara Gaddafi mencemoohkan ancaman pemberontakan rakyat untuk menggulingkan pemerintahnya.

Dalam kecaman paling keras AS terhadap pemimpin Libya itu, duta besar AS untuk PBB Susan Rice mengatakan Gaddafi “mengabaikan realitas,” dan “membunuh rakyatnya sendiri” dan tidak layak memimpin.

Dia mengatakan Washington sedang melakukan perundingan dengan mitra-mitra NATOnya dan sekutu-sekutu lainnya tentang pilihan militer. AS juga mengatakan 30 miliar asset Gaddafi dan keluargnya di AS telah dibekukan.

Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan pemerintahnya akan berusaha mempersiapkan bagi diberlakukan zona “larangan terbang” di Libya untuk melindungi rakyat dari serangan-serangan pasukan Gaddafi.

Gaddafi menolak desakan terhadapnya untuk mundur dan mengabaikan kekuatan pemberontakan rakyat terhadap kekuasaan 41 tahunnya yang mengakhiri kekuasaanya atas Libya timur dan semakin mendekati ibu kota Tripoli.

“Semua orang mencintai saya. Mereka akan siap mati melindungi saya,” katanya kepada stasiun televisi ABC dan lembaga radio Inggris BBC, Senin.

Ia membantah menggunakan angkatan udaranya untuk menyerang para pemerotes tetapi mengatakan pesawat-pesawat itu membom lokasi-lokasi militer dan depot-depot amunisi. Ia juga membantah ada unjuk-unjuk rasa dan mengatakan semua orang muda diberikan narkoba oleh Al Qaida dan karena itu mereka turun ke jalan-jalan. Pasukan Libya tidak diperintahkan untuk menembak mereka, katanya.

Gaddafi dalam wawancara di satu restoran di pantai Laut Tengah Tripoli itu tampak santai dan tertawa.

Memasuki pekan ketiga pemberontakan itu situasi di lapangan sering sulit bagi wartawan untuk masuk karena kesulitan bergerak di beberapa daerah negara gurun itu dan komunikasi terganggu.

Seorang penduduk Nalut, Sami mengemukakan kepada Reuters melalui telepon: “Mereka mengepung daerah dekat perbatasan Tunisia itu… Mereka datang dengan membawa senapan-senapan mesin berat di kendaraan -kendaraan roda empat dan puluhan orang dilengkapi dengan senjata-senjata ringan”.

“Mereka mengatakan mereka datang untuk melumpuhkan para penjahat yang kejam. Tetapi penduduk Nalut tidak mempedulikan ini. Semua orang siaga bagi kemungkinan serangan pasukan yang sama untuk menguasai kembali kota itu”.

Seorang pendudk lain kota itu, yang menolak menyebutkan namanya mengatakan ia mendengar tentara-tentara Libya memasuki kota perbatasan dengan Tunisia itu.

“Tidak ada pertempuran di Nalut. Mereka lewat dan pergi ke perbatasan, sekitar daerah Wazin. Penduduk tidak tahu apa yang terjadi di sini,” katanya.

Pada Senin, para saksi mata di Misrata, satu kota berpenduduk setengah juta jiwa , 200km di timur Tripoli , dan Zawiyah ,satu kota kilang minyak yang strategis, 50km di barat, mengatakan pasukan pemerintah sedang bersiap untuk melancarkan serangan.

“Sebuah pesawat ditembak jatuh pagi ini ketika menembaki satu stasiun radio lokal. Para pemerotes menangkap para awaknya,” kata seorang saksi mata di Misrata, Mohammed kepada Reuter melalui telepon.

Pertempuran di pangkalan udara militer juga sedang berlangsung, katanya. Satu sumber pemrintah Libya membantah berita itu.

Di Tripoli, pangkalan terakhir Gaddafi , beberapa orang tewas dan sejumlah lainnya cedera, Senin ketika pasukan yang setia pada dia menembaki para pemerotes di daerah tetangga Tajoura, kata surat kabar Quryna Maroko. Para pengunjuk rasa itu berjumlah sekitar 10.000 orang, kata surat kabar itu.

Comments Closed

Comments are closed.