Pawai Ogoh-ogoh Disesaki Penonton

Author - March 5, 2011

Pawai Ogoh-ogoh Disesaki Penontoni-berita.com, Ribuan penonton antusias mengikuti acara pawai ogoh-ogoh di Kota Denpasar, Jumat petang, yang diselenggarakan di perempatan Patung Catur Muka. Para penonton mengikuti acara tersebut dan tidak bergerak dari posisinya sekalipun hujan gerimis mengguyur.

Belasan ogoh-ogoh dengan rancangan yang artistik dan dilengkapi pergelaran seni tari sebagai latar tema, telah menyedot perhatian para penonton.

Setiap tahun Kota Denpasar menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam pengerupukan sebagai bentuk apresiasi kepada seni yang juga menjadi roh pelaksanaan Hari Suci Penyepian.

Gubernur Bali, Mangku Pastika, bersama istrinya, Ayu Pastika, menyaksikan pawai ogoh-ogoh itu dari satu lokasi di sudut rumah dinasnya yang juga terletak di lingkungan Lapangan Puputan Badung itu.

Kali ini, empat kecamatan yang berada dalam lingkungan Kota Denpasar mempersembahkan banjar-banjar yang ogoh-ogohnya terpilih untuk ditampilkan dalam pawai itu.

Salah satunya adalah Banjar Dauh Tangluk, Desa Kesiman, yang mengusung ogoh-ogoh bertemakan pertarungan Bhuta Kala dengan seorang ksatria.

Tiap ogoh-ogoh dipanggil panitia pelaksana dari keempat penjuru secara bergantian. Karena begitu antusias untuk bisa melihat ogoh-ogoh yang diarak memakai rangka dari bambu, sebagian penonton merangsek sampai ke tengah lingkaran tempat Patung Catur Muka berada sehingga menghalangi prosesi pengarakan.

Sanggar Tari Putra Kencana menjadi pembuka kontingen dari salah satu desa dalam lingkungan Puri Kesiman itu.

Seni tari yang ditampilkan juga cukup menyita perhatian penonton karena terdapat atraksi penyemburan minyak tanah untuk membentuk nyala api.

Ogoh-ogoh dari banjar itu berkeliling dua kali di perempatan Patung Catur Muka dan digoyang ke berbagai penjuru sehingga kesan pertarungan di antara ksatria dan Bhuta Kala itu bisa lebih realistik.

Seorang perempuan penari dalam balutan busana tradisional keemasan dan bermahkotakan milik ksatria ikut dalam rangka bambu ogoh-ogoh yang dibawa sekaha (paguyuban) teruna-teruni Banjar Batan Buah, Desa Kesiman.

Ogoh-ogoh raksasa bertangan dan bermuka empat dengan taringnya yang panjang dan wajah menyeramkan bertajuk Chandra Bairawa diunggulkan mereka.

Ogoh-ogoh merupakan persinifikasi dari Sang Bhuta Kala alias kekuatan gelap di dunia yang harus dikuasai manusia dengan seizin Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Pada masa lalu, seusai diarak keliling kampung dan diputar-putar di tiap perempatan jalan, ogoh-ogoh itu langsung dibakar pada malam pengerupukan.

Banjar Pekambingan lain lagi, karena mereka mengusung ogoh-ogoh Tirta Amerta, yang mengilustrasikan pertarungan Garuda Jatayu dengan satu naga besar berwarna kemerahan. Tajuk mahkota naga itu ditusuk cakar sang Jatayu sampai hampir menembus kepalanya.

Di sela-sela pawai ogoh-ogoh yang juga menarik bagi sebagian turis mancanegara di Bali, terdapat beberapa hal yang berlatar supranatural saat seorang pemeran Rangda tidak sadarkan diri dalam proses pemasangan topeng lambang kekuatan jahat itu di kepalanya.

Comments Closed

Comments are closed.