Politik Arab Saudi Memanas - i-berita.com, Perjalanan Raja Abdullah ke AS dalam rangka berobat, mengakibatkan situasi politik di Arab Saudi semakin memanas.
Para ahli Arab membahas kemungkinan kudeta diam-diam seiring memanasnya perebutan kekuasaan di Kerajaan Arab Saudi setelah perjalanan Raja Abdullah ke AS untuk berobat.

Sebuah seminar yang baru-baru ini digelar di Kairo fokus pada masa depan politik Arab Saudi di tengah absennya perjalanan Raja Abdullah ke AS untuk pengobatan dan prospek kemungkinan kematiannya.
Pertemuan berjuluk “Masa Depan Konflik Politik di antara Pewaris di Arab Saudi” yang dihadiri oleh pakar dan politisi Arab, termasuk akademisi Saudi dan cendekiawan Al Azhar Mesir, itu menyimpulkan bahwa adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris Al Saud.
Konflik itu menurut mereka diam-diam didorong dan dikendalikan oleh AS dan Israel yang memandang Kerajaan kaya minyak Arab sebagai isu kekhawatiran bersama dan mempertimbangkannya sebagai sekutu strategis utama di Timur Tengah melawan pasukan perlawanan.
Para ahli mencatat bahwa dokumen dan informasi yang tersedia mengindikasikan bahwa konflik itu berjalan dalam dua arah: pertama di antara putra-putra Raja Abdul Aziz dan kedua di antara cucu-cucunya.
Dalam kelompok pertama adalah sisa dari Klan Al Sudairy – tujuh putra dari Raja Ibn Saud dan Putri Hassa binti Ahmad Al Sudairy – yang paling terkenal adalah Perdana Menteri Pangeran Sultan, Gubernur Riyadh Pangeran Salman dan Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayef, yang didukung kuat oleh garis keras.
Kelompok kedua adalah cucu-cucu Abdul Aziz Ibn Saud, dan paling terkenal adalah Khaled bin Sultan, yang menjalankan kementerian pertahanan dan Mutaib bin Abdullah yang bertanggung jawab atas Garda Nasional Saudi.
Di antara kelompok kedua itu adalah Bandar bin Sultan, yang dipandang luas memiliki hubungan erat dengan agen intelijen AS dan kembalinya Sultan ke Kerajaan setelah absen selama satu setengah tahun tidak dianggap dengan banyak percaya diri.
Mengingat usia tua dan menurunnya kesehatan Raja Abdullah dan saudara-saudaranya, konflik antara Bandar dan Mutaib adalah satu-satunya perebutan kekuasaan serius yang mungkin bisa berujung dengan perang, pertemuan itu menyimpulkan. Mereka mencatat bahwa Washington berusaha untuk mengatur sebuah transisi kekuasaan damai, meskipun kekuasaan Bandar akan lebih melayani kepentingannya.
Para peserta seminar memperingatkan perubahan dalam pemerintahan Saudi yang mungkin akan semakin memperkuat ekstrimis Wahabi di Kerajaan, mendekatkan kerjasama antara Riyadh dan Washington dan bahkan mendorong normalisasi hubungan dengan Tel Aviv.
Mereka juga menuntut independensi situs-situs suci Muslim dari dominasi keluarga kerajaan Al Saud dan Wahabi, dan menyerukan pengawasan dari negara-negara Muslim dan akademisi independen sebagai gantinya.