Rasio Turun, Utang RI Tetap Naik

Author - June 16, 2011

Rasio Turun, Utang RI Tetap Naiki-berita.com, Secara rasio, utang RI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada saat ini menurun 1 persen disbanding utang di akhir tahun lalu. Rasio utang menurun seiring membesarnya nilai PDB Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto. “Saat ini rasio utang Indonesia sudah mencapai 25 persen. Akhir tahun lalu, rasio utang masih 26 persen. Tapi secara nominal meningkat,” ujarnya, Rabu (15/6/2011).

Jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, secara signifikan rasio utang sudah turun drastis. Tahun 2005, rasio utang masih 47 persen. Sedangkan di tahun 2000, rasio utang mencapai 89 persen. Penurunan rasio utang itu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perbaikan peringkat utang Indonesia di mata lembaga pemeringkat.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang mencatat total utang pemerintah sampai Juni 2011 sebesar Rp 1.804 triliun, naik Rp 127 triliun dari akhir 2010 sebesar Rp 1.677 triliun. Nominal utang itu bertambah karena penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Sedangkan penambahan dari utang luar negeri relatif stabil.

Penerbitan SBN terutama di pasar domestik itu bertujuan untuk refinancing utang lama, mengurangi pinjaman luar negeri, dan mengembangkan pasar keuangan domestik.

Menurut Ketua Badan Anggaran DPR Melchias Markus Mekeng, yang terpenting dari pengelolaan fiskal bukan besaran rasio utang yang cenderung menurun, melainkan dari tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Pemerintah tidak berani defisit tinggi karena kenyataannya penyerapan anggaran rendah,” ujarnya.
Pendapat yang sama juga disampaikan Manager Program Infid Wahyu Susilo. Ia menegaskan, yang terpenting saat ini adalah pemerintah mampu menyerap anggaran secara maksimal tanpa berpikir untuk berutang. “Kurangi utang, karena saat ini penyerapan utang baru 20 persen. Padahal kita terus membayar bunganya, jadi sangat mubazir,” katanya.

Wahyu juga menyampaikan kritik perihal upaya pemerintah yang memaksimalkan utang domestik lewat penerbitan SBN. Sebab, toh, nyatanya, asing yang banyak membeli SBN.

Meski rasio utang menurun, pemerintah juga tak boleh berleha-leha. Sebab, beban pembayaran utang masih besar. Tahun lalu, pemerintah membayar utang jatuh tempo Rp 135,6 triliun.

Rahmat mengungkapkan bahwa tahun ini, total beban utang yang mesti dibayar mencapai Rp 148,1 triliun. “Pembiayaan utang tahun ini justru melebihi defisit,” ungkap Rahmat. Sebab, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini diperkirakan Rp 124,7 triliun.

Sehubungan hal tersebut, pemerintah memerlukan dana Rp 288,8 triliun guna menutup defisit dan membayar utang tersebut. Memang, nilai utang jatuh tempo dalam kurun waktu 2005-2011 sendiri semakin besar. “Ini adalah utang-utang lama yang dibuat 15-20 tahun yang lalu,” terang Rahmat.

Comments Closed

Comments are closed.