Surga Untukmu Tidak Layak Di Tonton. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan pemantauan terhadap tayangan televisi selama bulan suci Ramadan. Hasilnya selama 10 hari pertama puasa, 11 acara televisi dinilai tidak sesuai dengan nafas bulan suci.”Dari temuan kita masih ada beberapa tayangan televisi yang tidak seharusnya ditayangkan di bulan suci ini. Kami mencatat ada 11 tayangan,” ujar Wakil Ketua Tim Pemantauan TV Ramadan MUI Pusat Imam Suhardjo di Gedung MUI Jl Proklamasi Jakarta Pusat, Selasa (24/8).

Menurut Imam, pemantauan MUI tersebut dimaksudkan untuk mengontrol konsistensi program tayangan TV dengan aturan yang berlaku, terutama saat Ramadan. Pemantauan dilakukan sejak 11 hingga 21 Agustus 2010.”Masih banyak tayangan TV yang mempertontonkan kekerasan fisik dan psikis selama bulan Ramadan ini,” terangnya.

Kekerasan fisik tersebut menurut Imam, kerap dilakukan dengan menampilkan tayangan adegan memukul atau menghempaskan kepala seseorang. Biasanya hal tersebut terjadi dalam tayangan yang bersifat komedian.”Kekerasan psikis ini bisa dilihat dari tayangan komedi yang muatannya saling ejek, saling hina, saling caci yang tidak pantas. Karena cenderung bisa ditiru terutama oleh anak-anak,” tambah Imam.

Sebelas tayangan yang dinilai tidak sesuai oleh MUI tersebut yakni program, Wayang on Stage (AnTV), Fiesta Buka Puasa (AnTV), Layar Kemilau, episode Warok Ponorogo (TPI), Cerita Pagi (TPI),  Layar Pagi (TPI), Mister Olga (RCTI),  InBox (SCTV), Sinetron “Ustad Jaka” dan “Surga Untukmu” (Indosiar),  Saatnya Kita Sahur (TransTV), Berita Pagi dan Selebrita Pagi serta iklan-iklannya ( Trans7) dan Shalat Tarawih dari Masjidil Haram (TVRI).

“Untuk tayangan Shalat Tarawih sebetulnya sangat positif. Tapi seharusnya teknis pemotongan jangan ketika Imam sedang membacakan surat, tapi setelah imam selesai salat,” imbuhnya.Tak hanya tayangan yang bersifat reguler, beberapa iklan produk di sela-sela acara pun tidak luput dari pantauan MUI. Iklan yang menampilkan tayangan yang bisa menggugah selera dikritik oleh MUI.

Terkait dengan temuannya tersebut, MUI akan segera melaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar segera ditindaklanjuti. “Kritikan MUI ini tidak untuk menikam industri TV tapi untuk mendorong agar tercipta tumbuhnya media massa yang bermartabat,” imbuh Imam.